Pratinjau

Jumat, 15 April 2011

dilema cinta berujung maut

“Pak, apa-apaan ini?” tanya Agni ketika dia melihat setumpuk undangan yang bertuliskan namanya di dekat Bapaknya.

“Kamu nikah sama Fajar dua minggu lagi.” sahut sang Bapak singkat.

“Aku belum pingin nikah. Kenapa Bapak ngatur-ngatur segala?”

“Kamu sudah 26 tahun, sudah tua. Mau tunggu sampai kapan lagi? Sampai ubanan? Mau jadi perawan tua?”

“Hidupku biar kuurus sendiri, Pak. Kalau mau nikah, aku yang milih sama siapa. Aku nggak mau nikah sama Fajar.”

“Fajar itu baik, kaya, taat beribadah, pas buat jadi suamimu. Kurang apa lagi?”

“Bapak kan nggak tahu apa-apa. Lagian aku nggak mencintainya. Sudah, Bapak jangan ikut campur!” jawab Agni ketus sambil membanting pintu kamarnya.

Kelakuan Agni membuat Bapaknya geram, “Dasar anak zaman sekarang! Kurang ajar, tukang mbantah… Percuma sekolah tinggi-tinggi kalau jadi kayak gitu.” Sambil mengomel, tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah dompet mungil di dekat tumpukan undangan. “Dompet si Agni,” pikir Bapaknya. Ia membuka dompet itu, dan betapa kaget dirinya saat melihat foto-foto mesra Agni bersama seorang pria bule.

Tanpa basa-basi, sang Bapak langsung menggedor pintu kamar Agni. “Agni, keluar!” bentak Bapaknya. Pintu baru setengah terbuka, tetapi Bapaknya langsung meledak, “Apa-apaan foto ini? Dasar tidak tahu malu!”

“Dia kekasihku, namanya Cade. Dulu dia teman kuliahku. Sekarang…” Agni belum selesai bicara, tetapi Bapaknya sudah memotong, “Apa agamanya?”

“Apa urusan Bapak dengan agamanya?” balas Agni dengan raut muka tersinggung.

“Jawab saja! Apa agamanya?” kembali sang Bapak membentak.

“Dia… seorang ateis.”

“Bah, ateis. Sudah, jangan dekat-dekat lagi dengannya. Kau siap-siap saja menikah dengan Fajar.”

“Pak! Sudah kubilang, aku nggak mau menikah dengannya! Aku mencintai Cade. Aku ingin menikah dengan Cade!” sahut Agni berapi-api.

Plak! Sebuah tamparan keras melayang ke wajah Agni. Mata Agni pun berkaca-kaca. Ia tak menyangka Bapaknya setega itu padanya. Ia mengira sang Bapak sudah berubah sejak ditinggal kabur Ibunya, tapi ternyata ia salah…

“Tampar lagi, Pak! Tampar sampai Bapak puas! Kuturuti semua kemauan Bapak. Aku tidak pernah bisa memilih. Sekarang, sampai jodohku sendiri pun Bapak yang menentukan. Pernahkah Bapak memberiku kebebasan? Menyesal aku terlahir ke dunia ini sebagai anak Bapak! Aku…” Plak! Belum sempat Agni menyelesaikan kalimatnya, satu lagi tamparan sang Bapak yang mendarat ke wajahnya. Tamparan itu begitu kuat, sampai pipi Agni menjadi lebam.

“Keluar dari sini kalau nggak mau nurut Bapak! Pergi dan jangan berani-berani balik ke sini lagi! Kamu bukan anak Bapak lagi!” teriak Bapaknya.

Mendengar reaksi sang Bapak, Agni langsung meninggalkan rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “Percuma dibantah,” pikirnya sambil menangis. Sejak dahulu, begitulah Bapaknya, mau menang sendiri…

——

Malam itu, Sang Bapak tidak bisa pergi. Wajah Agni selalu terbayang di benaknya, baik saat membuka maupun menutup mata. Ia menyesal karena tidak bisa mengendalikan emosinya dan main tampar saja. Ia bahkan tidak habis pikir, bagaimana ia bisa mengusir putrinya sendiri. Sudah dua jam berlalu, tetapi kejadian tadi terus menghantuinya dan membuatnya tetap terjaga. Akhirnya ia pun memutuskan untuk jalan-jalan ke luar rumah.

Tiba-tiba, seorang tetangga mendekati dan menyapanya, “Pak, Agni…”

“Agni kenapa, Bu? Ibu ketemu dia? Di mana dia sekarang?” tanya sang Bapak.

“Agni meninggal… ” sahut tetangganya dengan mata berkaca-kaca. “Dia tertabrak bus saat menyeberang di ujung jalan sana. Kebetulan saya melihatnya dan…”

Hancur sudah hati sang Bapak. Ia tidak bisa lagi mendengar perkataan tetangganya karena tenggelam dalam kesedihannya sendiri. Karena keegoisannya, Agni, putri satu-satunya, telah meninggalkannya. Agni telah pergi untuk selamanya dan tak akan kembali…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar